Google+ Followers

Hujan Feat. Banjir

Sebelum aku mulai, ini bukan tentang band ataupun lagu, ya siapa tau ada yang kesasar kesini karena salah alamat (yakali 😔).

Dew, Lalang, dan Himang pas mau berangkat sekolah

Semalem hujan deres dan alhasil rumahku yang mewah alias mepet sawah (literally) banjir. Memang bukan bankir yang tinggi sih, bahkan gak sampe mata kaki juga. tapi ya cukup bikin capek karena harus angkat-angkat barang yang dibawah dan capek juga berishinnya.
Banjir kayak gini jadi bikin keinget sama pengalaman waktu di Long Pahangai dulu...

Awal bulan Maret tahun 2016 (ternyata lama juga ya, udah hampir dua tahun yang lalu) hujan deras mengguyur daerah Mahakam Ulu dan hasilnya adalah banjir. Menurut orang-orang banjir memang udah langganan dan bagian dari kehidupan penduduk sana, hidup di tepi sungai ya semuanya berhubungan sama sungai. Mandi di sungai, nyuci di sungai, cari makanan salah satunya ya mancing ikan di sungai, minum... well, mereka gak minum air sungai kok, mereka minum dari mata air yang dari tempat yang ngeluarin mata air (airnya seger banget, sumpah).

Ketika banjir, itu mengubah banyak hal, coba perhatiin gambar ini:

Padahal rumah disana uda dibangun dengan posisi yang tinggi kayak gitu tapi tetep aja air banjir masuk ke beberapa rumah. Sungai mahakam sendiri letaknya di samping kiri foto dan biasanya perlu turun 3 atau 4 meter (aku ga yakin) ke bawah buat mandi di sungai, tapi dari foto ini kelihatan debit air sungai tinggi banget, ini karena memang air sungai yang meluap karena hujan tapi juga air kiriman dari daerah yang lebih tinggi dan lebih dulu banjir, bisa dibayangkan daerah yang lebih rendah dari kampung ini gimana.


Tadi aku bahas soal perubahan karena banjir, apa aja?
-> Kehidupan sehari-hari
Kehidupan dan kebiasaan penduduk agak sedikit berubah, dari misalnya bisa berengn bebas di sungai jadi mandi di pinggiran aja karena bahaya. Beberapa murid yang tinggal di kampung yang berbeda juga mengalami kendala buat ke sekolah karena berbahaya juga melwati sungai ketika banjir besar.
-> Transportasi
Ada 3 cara untuk pergi dari dan ke kecamatan ini, dari udara bisa pake pesawat kecil yang cuma muat belasan orang, jalur laut pake sungai yang tentu aja lebih berbahaya karena keadaan sungai lebih ganas dari waktu surut, dan terahir adalah jalan darat tapi ketika banjir gak bisa digunakan karena perjalanan pake mobil gede ini melewati paling nggak 7 anak sungai mahakam (udah ku hitung) dan beberapa ada yang tenggelam dan gak bisa dilewatin mobil.
(btw, walopun aku nulis ada jalur darat tapi jangan bayangin jalan yang lurus dan beraspal ya, jalan darat artinya jalan tanah dan kadang lumpur dan jalurnya naik turun serta motong sungai dan beberapa kali ngelewatin hutan).
-> Harga barang
Bingung? aku juga awalnya gitu, hahaha
karena transportasi jadi sulit, pasokan barang yang masuk jadi berkurang dan barang yang ada menjadi langka sedangkan permintaan penduduk malah makin meningkat makanya harga-harga barang jadi naik. masi bingung? hadeeeh, pelajari lagi supply and demand.
Selain barnag yang didatangkan dari daerah lain, harga transportasi juga jadi naik karena butuh skill dan bahan bakar lebih buat ngelewati sungai waktu banjir.

Kurang lebih itu yang jadi masalah inti disana ketika banjir besar datang, mereka sudah terbiasa mengalami ini dan leluhur mereka juga bisa survive tapi seandainya ada cara biar meminimalisir banjir kayak gini lagi pasti bakal lebih baik buat semua pihak.
God, I miss living there already,,,

The Journey

Terkadang aku ragu, terkadang aku hilang arah, dan postingan ini adalah sebagai pengingat semua perjuanganku dan proses apa yang udah aku lewatin sampe sekarang ini. Sebuah perjalanan panjang yang menurutku gak semua orang bisa lakuin.

Dimulai dari awal tahun 2015 aku ahirnya kuliah, itu artinya hampir 5 tahun sendiri aku berjuang demi ijazah dan gelar S.Pd. yang sekarang udah umum dan tidak sesitimewa jaman dulu tapi tetep aja buat aku itu adalah hasil seluruh kerja keras, penantian, dan doa yang tiada henti untuk segera bebas dari yang namanya skripsi dan kuliah.
Tapi ketika itu terkabul aku malah bingung, karena belum ada persiapan untuk tahapan selanjutnya, gak lama aku daftar porgram SM-3T simply karena waktu itu aku baru lulus (dan liat ada papan iklan SM-3T yang gede banget di deket kampus, hehe)

Dan ahirnya semuanya dimulai, awalnya adalah tes registrasi, ini sebenarnya bukan tes juga, lebih ke kelengkapan administrasi aja. Disuruh tulis nama ya tulis nama, suruh tulis akreditasi ya tulis akreditasinya apa, pokoknya isi apa adanya sesuai kenyataan aja. Basically, yang gak lolos disini adalah mereka yang gak lengkap ngisi keterangan atau ngisi gak sesuai kenyataan. Misalnya naikin IPK atau ngisi akreditasi kampus yang tinggi. (Temenku ada yang kejadian kayak gini dan dia marah-marah, mungkin dia gak tau kalo semua itu gampang banget di cross-check. LOL 😂)

Tahapan selanjutnya adalah tes online di kampus yang dipilih. Aku hampir gagal di tahapan ini karena ada berkas yang ketinggalan, untung ada file hasil scan di flashdisk jadi bisa langsung diprint lagi deh. Tapi yang lebih hampir bikin gagal ya soal tesnya itu. Aku uda lupa jenisnya apa aja dan berapa lama waktu tesnya tapi yang jelas banyak yang gagal dalam tes.

Bagi yang lulus, diwajibkan ikut tes wawancara di kampus. Yang agak ribet adalah sebelum tes ini harus mempersiapkan beberapa berkas yang memakan biaya kayak misalnya SKCK dan tes NAPSA. Ortuku bilang ini artinya aku udah pasti diterima. sebenernya kurang lebih begitu sih, yang gagal dalam tahap ini cuman mereka yang gak dateng waktu wawancara aja. Lagian pas wawancara juga cuman ditanyain motivasi, apa yang bakal dilakuain disana, gitu aja.

Singkat cerita, ahirnya lolosnya sekitar 5000 peserta SM-3T angkatan V seluruh Indonesia dan sebelum diterjunkan, semua harus ikut prakondisi dulu. Dalam tahapan prakondisi ini dilatih untuk hidup disiplin oleh para tentara selama 2 minggu. Oiya, tetep ada peer teaching nya juga ya, kan disana nanti mau jadi guru, hehe. Dibandingkan temen dari kampus lain, kampus ku yang plaing enak karena selama 2 minggu kami tinggal di hotel, sementara yang lain tidur di barak tentara atau yang semacam itu, hahaha.

Tengah Agustus ahirnya aku bener-bener ikut SM-3T selama setahun di tanah rantau. Well, untuk bagian ini bakalan ada postingan tersendiri dong, 😀

Pertunjukan tari oleh anak-anak SDN Long Pahangai 001 dan 002

Sekarang lagi harap-harap cemas menunggu tahapan selanjutnya yaitu PPG, semakin dekat menuju gelar gr. nih, tapi apakah nantinya perjalanan ini makin mudah? atau malah lebih sulit dari SM-3T?
hmmmm


The Juk Family

Kayak yang udah aku ceritain sebelumnya, aku punya keluarga angkat di tempat aku mengabdi Kampung Long Pahangai, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur. (Harus lengkap dong, biar yang baca tau hehe).

Soal keluarga angkat ini bukanlah hal yang langka disana, dan itu membuat aku agak kaget (ini lho yang namanya cultural shock, hehe) Jadi memang ada beberapa saat dimana para pendatang itu dijadikan anak angkat dari penduduk sekitar. Bukan Status semata, tapi memang perlakuan mereka juga memang seperti keluarga yang sebenarmya; Yang mana ini berbeda banget dengan mitos bahwa orang dayak itu kasar, makan orang, dan sebagainya, itu amat sangat salah.

Bagi yang belum pernah ketemu atau ngeliat orang dayak langsung mungkin bisa liat di google atau bagusnya lagi langsung dateng ke Kalimantan aja sekalian, hehe, karena lewat google kalian hanya bisa lihat fisik mereka tapi belum bisa merasakan kebaikan hati mereka (😁)

Oke saatnya mulai, ada total 20 orang yang dapet nama baru, tapi yang 8 itu beda kecamtan jadi aku lebih fokus ke yang 12 aja, here we go (Btw, namnaya diurutin dari yang paling tua dulu)

Tingang Juk

Guru PGSD spesialis Matematika ini adalah yang paling eksis dan narsis, tapi ya sudahlah ya....
Mengaku punya relasi di luar negeri dan banyak koneksi dalam negeri juga, hmm gimana ya gambarin dia,,, aku (dan kayaknya semua orang juga sih) sering bingung tentang apa yang dia omongin, entah dia sendiri paham dengan apa yang dia omongin atau nggak.

Savang Juk

Hobi travelling, mendaki, jalan-jalan, intinya jarang dirumah gitu. Lulusan Ekonomi Akuntansi tapi jadi guru IPS di SMP. Di Long Pahangai sering banget Jogging bareng adek-adeknya murid-muridnya, dan juga main Badminton. Kata mamak, Savang itu udah mirip banget orang dayak kayan, dari kemampuannya sehari-hari, dan dari namanya juga.

Himang Juk

Anak Tunggal yang tidak manja, well ini karena sependek yang aku tahu kebanyakan anak tunggal itu manja. Tapi Himang gak mungkin bisa sampai Kalimantan kalo dia manja kan,,,
Kemampuan masaknya berkembang seiring perantauan. Dihapal mamak karena sambal buatannya, oke infonya emang random banget. Suka banget nyanyi dan olahraga, makanya dia punya beberapa fans disana. Secara fisik memang lumayan karena dia mantan resepsionis bank juga, sekilas keliahatan kayak anak Olahraga tapi sebenernya dia lulusan Sosiologi Antropologi.

Lung Juk

Yang paling sensitif tapi juga yang paling caring diantara yang lain, mungkin karena itu dia dipanggil umi (btw, dia cowok). Pembawaannya agak serem kalo lagi ngajar matematika tapi sebenernya dia baik hati. Pemikiran orang ke dia pasti langsung berubah kalo liat dia nari lagu JKT48 (Lagu favorit gomen ne summer)
Kadang suka galau sendiri tapi mungkin itu karena dia kebanyakan mikirin orang lain daripada dirinya sendiri (?) atau mikirin masa depan, atau mikirin utang, aku gak tau yang mana tapi yang jelas suka banget sama lagu-lagunya mytha.

Lalang Juk

Teteh teteh yang mukanya ga terlalu kayak teteh teteh karena emang dia cuman setengah sunda.
Dia yang jadi bendahara dan mengatur pengeluaran kami. Hobi ngabisin PLTS sekolah (ups, sori teh keceplosan). Walopun gak keliatan kayak gitu, tapi dia adalah guru olahraga SD. Hobi bergosip makanya dia kenal dengan emak emak di kampung.
Pemburu diskonan apalagi kalo ada diskon penerbangan gitu. Suka banget main Plant vs zombie di laptop orang.

Dawing Juk

Chef utama dan yang paling jago masak diantara yang lain. satu-satunya pemilik double deegre juga, yaitu yang Ppkn dan ilmu perpustakaan. Mengklaim bahwa dia memiliki kaki barbie dan bodi seksi. 
Cowok (?) ini paling ahli soal lagu dangdut diantara kami, bukan cuman lagunya, tapi juga goyangnya lho

Ping Juk

Titisan Evi Masamba ini ditakuti murid-muridnya karena pembawaannya yang galak dan suaranya yang lantang (walaupun begitu mereka tetep sayang kamu kok kakak ping 😂). Kombinasi orang Jawa dan Sulawesi tap lebih banyak sulawesinya sih karena emang lebih lama disana. 100% jago Geografi dan jago masak juga.

Silau Juk

Sesuai namanya, guru Bahasa Inggris yang satu ini memiliki aura yang menyilaukan orang-orang (???) hmmm, entahlah. digemari dari anak-anak sampe bapak-bapak juga. namanya didapat karena waktu dikasih nama dia ngambil foto dan nenek Huring yang ngasih nama ngerasa Silau ahirnya diberikanlah nama Silau ini.... 😂

Belawing Juk

Totally Bugis to the bone lah, dari awal memang yang paling sering main dan bahkan paling akrab dengan penduduk sekitar. Mungkin dia nantinya akan merantau lagi kesini? Bisa jadi.
Paling rajin diajak mamak ke ladang karena memang cocok jadi orang sana (??)

Kelawing Juk

Kelawing dalam bahasa daerah sana artinya Bintang 😲
Walaupun pembawaannya halus dan kalem tapi dia pinter banget soal Zumba Dance. Disamping itu, dia juga pinter gambar dan desain juga. Satu-satunya yang dateng ke Long Pahangai dengan status bertunangan, apakah dia juga yang pertama berstatus menikah? we'll see..

Hanyeq Juk

jangan google 'jamieracle', pokoknya jangan.

Dew Juk

Bontot yang satu ini paling populer di kalangan cowok cowok SMANSA LOPA (secara cuman dia guru SM-3T cewek di sekolah itu) tapi selain itu dia adalah guru serabutan serba bisa karena mengajar beberapa mapel sekaligus walaupun sebenarnya dia dari jurusan Sejarah.

Sekian adalah deskripsi gak jelas dari Juk family, walopun gak ada yang beres tapi kayak kata teteh, orang yang ikut SM-3T itu kalo gak gila ya bodoh. Mungkin itu kesamaan di antara kami semua ya, tapi yang mana?